Analisis Model komunikasi Shannon dan Weaver

Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat lepas dari wacana yang merupakan bentuk aktual komunikasi dengan menggunakan medium bahasa, yang mana di dalamnya terdapat unsur-unsur yang saling berkaitan dan membentuk suatu keutuhan yang disebut konteks.

Proses komunikasi melibatkan tiga aspek utama yaitu pengirim pesan (symtom), bunyi (symbol) yang ingin disampaikan, dan penerima pesan (signals). Pesan akan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan jika memiliki kekoherensian dan konteks yang jelas.

Akan tetapi menurut teori komunikasi yang diusulkan oleh Shannon dan Weaver, wacana bukan sekedar menyampaikan pesan dari pengirim kepada penerima sehingga dalam prosesnya, ada kemungkinan pesan tidak dapat diterima dengan baik. Faktor penyebabnya oleh Shannon dan Weaver disebut sebagai noise.

Noise dapat berupa masalah ekternal seperti angin yang kemudian membuat suara pengirim tidak dapat diterima dengan jelas, atau tulisan yang ditafsirkan berbeda oleh penerima, dan bisa pula karena perbedaan budaya antara pengirim dan penerima pesan sehingga terjadi kesalah pahaman.

Contoh kasus, pada tahun 2013 lalu, terdapat acara keagamaan yang diselenggarakan di kediaman orang tua saya yang di antaranya dihadiri oleh lima pasang suami-istri dari India dan Pakistan.

Di acara santai, salah satu tamu India berujar yang artinya kira-kira, “Kerudung Anda bagus!” sambil menunjuk kerudung panjang berbahan kaus yang sedang saya kenakan.

Dari ujaran dan raut wajah ketika mengatakan hal tersebut, saya dapat menangkap makna yang lebih dari sekedar pujian, oleh sebab itu saya tidak menjawab “Terima kasih!” dan selesai sampai di situ. Saya menawarkan untuk memberikan kerudung yang sejenis jika ia berkenan. Sampai di sini, bisa dikatakan saya berhasil menangkap pesan yang ada dalam ujaran tersebut.

Akan tetapi, ia menjawab dengan gelengan kepala dan senyuman sembari menjelaskan bahwa di India tidak ada kerudung instan berbahan kaos. Mereka bisanya menggunakan selendang panjang yang dililitkan.

Tamu tersebut memandang saya lama dan memasang wajah penuh harap bahwa saya akan memberikan kerudung yang sejenis seperti yang saya tawarkan. Dengan ragu, saya bertanya sekali lagi untuk memastikan apakah ia berkenan saya berikan kerudung kaos. Lagi-lagi ia merespon dengan gelengan kepala dan mata berbinar-binar. Saya bingung.

Pada hari ke tiga, saat berpamitan hendak kembali ke negara asalnya, ia bertanya di mana ia dapat menemukan kerudung kaus yang nyaman seperti yang dikenakan kebanyakan orang di sini.

Saat itulah saya baru ingat bahwa gestur yang kita miliki tak selalu mempunyai arti yang sama dengan negara lain. Di budaya orang India, menggeleng-gelengkan kepala memiliki arti ‘iya’ atau setuju.

Di sini, makna yang disampaikan oleh tamu India gagal saya pahami dengan baik. Inilah salah satu bentuk noise yang dikarenakan oleh adanya perbedaan budaya antara pemberi dan penerima pesan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s