ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH

Menurut Fairclought (2012), analisis wacana kritis merupakan suatu kajian ilmiah yang mana praktik sosial dalam analisis wacana dipandang menyebabkan hubungan yang saling berkaitan antara peristiwa yang bersifat melepaskan diri dari sebuah realitas dan struktur sosial.

Fairclough (Badara, 2012: 26) membagi analisis wacana menjadi tiga dimensi yaitu; (1) text, yang berhubungan dengan linguistik (analisis kosa kata dan semantik, tata bahasa kalimat dan unit-unit lebih kecil, dan sistem suara (fonologi) dan sistem tulisan.);  (2) discourse practice, yang berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks; serta (3) social practice, yang berhubungan dengan konteks di luar teks, misalnya konteks situasi atau konteks dari media dalam hubungannya dengan masyarakat atau budaya politik tertentu.

Penerapan analisis wacana kritis model Norman Fairclough

“Kompetensi Penerjemah Dipertanyakan”

Perkembangan pertukaran informasi pada era globalisasi telah membuka persaingan besar hampir di setiap aspek lapangan kerja, tidak terlepas diantaranya dunia penerjemahan. Namun, kesiapan Indonesia menjawab tantangan dalam menyambut era globalisasi ini (a) belum sepenuhnya terpenuhi karena belum adanya pembenahan yang menyeluruh terutama pada kualitas penerjemah baik lisan maupun tulisan.  (Paragraf 1)

Ketimpangan ini (b) terlihat dari masih adanya kasus peredaran penerjemah yang belum memenuhi standar kompetensi. Hal tersebut(c) setidaknya diakui oleh seorang penerjemah senior, Prof. Dr. Benny H. Hoed yang juga adalah guru besar linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). (Paragraf 2)

“Ada penerjemah yang menggunakan izin penerjemah tersumpah yang sebenarnya dipegang oleh orang lain,” kata Benny Hoed. “Bahkan, ada juga penerjemah tersumpah yang telah meninggal dunia tetapi izinnya tersebut (d) diteruskan oleh anak atau saudaranya,” tambah Benny Hoed yang tidak dapat menyebutkan secara rinci jumlah kasus tersebut (e). (Paragraf 3)
Pengakuan serupa juga diakui oleh seorang penerjemah tersumpah yang berdomisili di Depok, Tosman Efendi. “Mungkin karena si penerjemah tersumpah terlalu banyak order (terjemahan) lalu penerjemah bersangkutan menyerahkan orderannya itu (f) ke orang yang dikenalnya dan dipercaya dapat menerjemahkan. Ini (g) bisa saja terjadi karena pemerintah provinsi DKI tidak menerapkan pengawasan terhadap izin penerjemah tersumpah yang telah dikeluarkan,” tutur Tosman yang juga adalah seorang pengajar Lembaga Bahasa LIA Depok. (Paragraf 4)

Dikutip dari: http://nasional.kompas.com/read/2008/04/06/1749544/kompetensi.penerjemah.

  1. Text

Wacana di atas dapat dikatakan kohesif karena menggunakan alat kohesi di antaranya:

  1. Pengulangan

Kata yang mengalami pengulangan adalah kata yang dicetak tebal yakni kata penerjemahan, penerjemah dan menerjemahkan.

  1. Referensi

Referensi dengan menggunakan pronomina penunjuk yang dapat dilihat dalam kata yang digaris bawahi, di antaranya:

(1) Paragraf 1: (a) ini, yang mengacu pada era globalisasi yang membuka persaingan besar hampir di setiap aspek lapangan kerja.

(2) Paragraf 2: (c) tersebut, mengacu pada ketimpangan peredaran penerjemah yang belum memenuhi standar kompetensi.

  1. Konjungsi

Konjungsi juga banyak ditemui di setiap paragraf , di antaranya:

  • Paragraf 1: Diantaranya (misalan), namun (pertentangan), karena (penyebaban)
  • Paragraf 3: Bahkan (penegas); tetapi (pertentangan); atau (pilihan)

Selain kohesif, wacana tersebut juga memiliki kekoherensian yang baik sebab keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian sangat jelas terlihat  memiliki kesatuan makna yang utuh. Di awal paragraf dijelaskan bahwa persaingan di setiap aspek lapangan kerja kian terasa, termasuk di dunia penerjemahan. Namun, tantangan tersebut belum bisa diatasi dengan baik karena masih adanya kasus peredaran penerjemah yang belum memenuhi standar kompetensi dan penyalah gunaan izin penerjemah tersumpah. Hal ini bisa saja terjadi karena karena pemerintah provinsi DKI tidak serius melakukan pengawasan terhadap izin penerjemah tersumpah. Jika diawasai dengan serius, seperti yang di lakukan di Australia, jumlah kasus penyalah gunaan ini bisa ditekan.

  1. Discourse Practice

Pada tahun 1998, Kompas.com muncul sebagai respon atas perkembangan tren masyarakat dalam penggunaan internet di Indonesia. Akan tetapi, jauh sebelumnya, versi cetaknya yang diberi nama Harian Kompas, telah lama dibentuk dibawah naungan perusahaan Kompas Gramedia pada tahun 1965. Sejak kemunculannya hingga saat ini, Kompas Gramedia telah berkembang pesat dan memiliki berbagai jenis usaha yang tersebar di seluruh Indonesia termasuk beberapa penerbitan buku segala genre.

Motto Kompas sendiri adalah “Amanat Hati Nurani Rakyat”, sedangkan visi dan misinya “Menjadi Perusahaan yang terbesar, terbaik, terpadu dan tersebar di Asia Tenggara melalui usaha berbasis pengetahuan yang menciptakan masyarakat tedidik, tercerahkan, menghargai kebhinekaan dan adil sejahtera.”

Dengan demikian, isu yang diangkat dalam artikel “Kompetensi Penerjemah Dipertanyakan” bisa dikatakan sesuai dengan motto, visi dan misi yang diemban Kompas, yakni merepresentasikan sebuah kritik atas fenomena yang terjadi di dunia penerjemahan Indonesia serta sebagai pencerahan bagi masyarakat, khususnya civitas akademis agar lebih berhati-hati dalam memilih karya terjemahan.

Tak heran, dalam sebuah seminar bertajuk “Seminar Sehari tentang Penerjemahan Buku”, misalnya, seorang dosen di Universitas Indonesia melarang para mahasiswanya membeli buku-buku ekonomi terjemahan terbitan sebuah penerbit di Jakarta sebab karya-karya terjemahan itu menyesatkan.

Akan tetapi, jika dianalisa lebih jauh lagi, sebuah proses karya penerjemahan tidak berhenti di tangan penerjemah saja, editor dan penerbit juga memiliki andil yang tak kalah penting dalam menentukan kualitas penerjemahan.

Pelatihan penyuntingan untuk para editor sebagai pihak yang menentukan layak tidaknya sebuah karya terjemahan diterbitkan, tentu sangat perlu dilakukan. Dengan demikian, Kompas yang juga merupakan perusahaan penerbitan buku, termasuk karya penerjemahan, berkaitan erat dengan fenomena ini. Sehingga, bisa jadi, artikel ini juga menjadi evaluasi internal bagi pihak-pihak yang terkait di dalam institusi Kompas.

  1. Analisis Social Practice

Sebagai harian yang merepresentasikan hati nurani rakyat, melalui wacana tersebut, Kompas mencoba mengangkat fenomena yang sedang terjadi terkait dunia penerjemahan di Indonesia yang dianggap belum mumpuni mencapai kualitas yang diperlukan di era globalisasi.  Hal ini bukan untuk menjatuhkan reputasi para penerjemah dan penerbit yang yang bersangkutan namun untuk memacu semua pihak yang berkaitan agar terus meningkatkan kemampuan diri.

Mengingat besarnya eksposur yang diiliki, tentu saja Kompas memiliki pengaruh yang cukup besar dalam meningkatkan kesadaran berbagai pihak. Dan dapat kita saksikan, asosiasi penerjemah, pusat-pusat penerjemahan dan perguruan tinggi yang memiliki program studi penerjemahan kerap kali bersinergi meningkatkan kualitas penerjemahan dengan mengadakan seminar, diskusi, dan pelatihan-pelatihan penerjemahan. Tak heran, saat ini, sudah banyak penerjemah-penerjemah handal yang bahkan membuat karya-karya domestik melejit hingga luar negeri. Sebut saja salah satunya Man Tiger, karya fiksi Eka Kurniawan yang menerima anugrah Man Booker 2016 yang membuat karya sastra Indonesia kembali dilirik dunia.

 

Datar Pustaka:

Fairclough, N. (1995). Critical discourse analysis: the critical study of language. London, England: Longman.

http://www.kompasgramedia.com/

http://nasional.kompas.com/read/2008/04/06/1749544/kompetensi.penerjemah.dipertanyakan

http://sanctuarylw.blogspot.co.id/2003/11/kritik-terjemahan-di-indonesia.html

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s