Food as Symbolic Code Vs Sony Walkman

  1. Pendahuluan

Dalam paper ini, penulis akan membandingkan kebudayaan dari dua sudut pandang yang dipaparkan dalam artikel “Food as Symbolic Code” oleh Sahlins dengan artikel yang dihimpun oleh beberapa tokoh; Paul du Gay, Stuart Hallm Linda Janes, Hugh Mackay, dan Keith Negus, yakni “Doing Cultural Studies; The Story of the Sony Walkman”.

Penulis merangkum beberapa ide yang terdapat dalam kedua artikel tersebut untuk kemudian dianalisis perbedaan dan persamaan keduanya. Adapun beberapa istilah yang akan digunakan dalam paper ini antara lain; strukturalisme, studi kebudayaan, materialisme, produksi kebudayaan, dll.

  1. Isi

“Food as Symbolic Code”

Dalam “Food as Symbolic Code”, Sahlins menjelaskan bahwa sebuah kebudayaan atau tatanan sosial suatu masyarakat tertentu dapat dilihat dari makanan yang mereka makan. Dalam artikel tersebut, Sahlins mengambil contoh kasus kebudayan di Amerika.

Di Amerika, hewan dikelompokkan menjadi dua; yang bisa dimakan dan yang tidak bisa dimakan. Kelompok hewan yang bisa dimakan antara lain sapi dan babi. Sementara anjing dan sapi, misalnya, merupakan hewan yang tabu atau tidak lazim untuk dimakan.

Aturan tersebut dibuat oleh masyarakat tanpa mempertimbangkan unsur fisik atau nilai ekonomis yang terdapat dalam objek yang dirujuk, melainkan karena mereka menciptakan nilai simbolis tersendiri yang sudah melekat dan menjadi budaya.

Dalam budaya Amerika, anjing dianggap sahabat manusia. Mereka memiliki hak istimewa untuk ‘bergaul’ dengan manusia. Mereka boleh masuk rumah, duduk di sofa, bahkan tidur di ranjang tuannya.

Kuda pun demikian. Kuda dianggap binatang tunggangan yang patut disayang dan dirawat. Bukan untuk dimakan. Itu sebabnya, ketika terjadi krisis daging sapi di Amerika, kuda sempat dijadikan pengganti daging sapi untuk menekan harga dan hal ini mendapat kecaman keras dari para pecinta kuda yang merasa hal ini sangat tidak manusiawi.

Akan tetapi jika kita melihat kebudayaan lain,  makna atau nilai simbolis yang berlaku di Amerika, justru bertolak belakang. Di Asia misalnya, anjing diternakkan untuk dijadikan bahan makanan. Begitupun kuda.

Di India, memakan daging sapi dianggap sangat tidak lazim. Sapi di hormati karena dipercaya sebagai tunggangan dewa. Ini sama halnya dengan kucing yang dianggap istimewa oleh umat Islam karena kucing dipercaya sebagai hewan kesayangan Rasul.

Selain masalah pantas dan ketidak-pantasan di atas, makanan juga dapat membatu kita menganalisis aspek yang lebih jauh lagi. Sahlins menjelaskan bahwa daging sapi, misalnya, dapat menggambarkan tatanan masyarakat di Amerika. Dahulu, kaum Borjuis (sekarang diganti dengan masyarakat kelas sosial tinggi), berusaha memegang kendali atas aturan-aturan yang berlaku di masyrakat.

Bagian sapi yang paling bagus hanya boleh dikonsumsi oleh kaum Borjuis/ orang kaya. Meskipun produksi daging sapi melimpah, harga daging yang paling bagus tetap mahal sehingga kaum menengah ke bawah tidak mampu membelinya. Yang diperuntukkan untuk mereka adalah bagian yang dianggap ‘rendah’, seperti jantung, ginjal, dan isi perut (jeroan).

Sebenarnya, yang terjadi di sini pun adalah permainan makna simbolis. Tidak ada hubungannya dengan unsur fisik daging itu sendiri. Kaum Borjuis menciptakan sendiri nilai yang melekat dalam objek tersebut.

Hal lain yang dicontohkan Sahlins mengenai hal ini adalah mengenai produksi pakaian. Celana, misalnya, identik dengan sesuatu yang maskulin sementara rok, identik dengan sesuatu yang feminin.

Kedua benda tersebut secara fisik sebenarnya tidak ada hubungannya dengan istilah maskulin dan feminin. Sistem simbolislah yang membentuk nilai tersebut; celana diproduksi untuk pria sementara rok diproduksi untuk wanita.

“Doing Cultural Studies; The Story of the Sony Walkman”

Masalah produksi ini, lebih jauh dipaparkan dalam artikel kedua, yakni “Doing Cultural Studies; The Story of the Sony Walkman”.

Du Gay (dkk) memperkenalkan istilah ‘sirkuit kebudayaan’ yang melibatkan beberapa aspek diantaranya representasi, identitas, produksi, konsumsi, dan regulasi. Sirkuit ini bisa dimulai dari mana saja.

Katakanlah kita mulai dari representasi. Representasi di sini bermakna sesuatu yang merujuk pada proses yang dengannya realitas disampaikan melalui komunikasi. Hal ini sama dengan proses yang dijelaskan dalam “Food as symbolic code” di atas, yang mana pemaknaan suatu simbol objek tertentu dianggap bernilai tanpa mempertimbangkan unsur fisiknya.

Akan tetapi, dalam artikel kedua, yang dijadikan objek adalah walkman. Walkman dijadikan objek untuk mendeskripsikan studi kebudayaan karena ia dianggap sebagai artefak yang mewakili kebudayan modern.

Walkman memiliki ‘meaning’ yang membantu kita menginterpretasikan sesuatu/ fenomena, baik yang kita alami langsung maupun tidak langsung (dalam novel, film, mimpi, khayalan, dll)

Walkman itu sendiri sebenarnya tidak memiliki makna. Makna melekat pada walkman karena kitalah yang memaknainya melalui proses penggunaan bahasa dan gambar atau naratif untuk membentuk konsep di kepala kita. Dan ini terjadi terus menerus.

Proses selanjutnya, jika kita mulai dari representasi, adalah proses identitas. Di sini, terjadi pengeksploran diri demi sebuah identitas, yang mana, ini berkaitan erat dengan relasional dan pengelompokkan. Persis seperti yang dilakukan kaum Borjuis dalam artikel “Foof as symbolic code” yang berusaha mengelompokkan diri mereka dengan menciptakan aturan-aturan tertentu.

Walkman, jika dilihat dari asal usulnya, dibuat untuk mengusir kebosanan ketika berpergian jauh, mengantri lama, jogging dan lain sebgainya. Ini dapat menunjukkan perubahan gaya hidup masyarakat yang mulai menjadi modern seperti mobilitas tinggi dan lain sebagainya.

Lebih spesifik lagi, walkman begitu populer di budaya anak muda. Ini kemudian menjadi life style anak muda yang tidak ingin dicap ketinggalan jaman. Di sinilah proses pencarian identitas tersebut terjadi. Untuk dapat disebut sebagai bagian dari kelompok tertentu, mau tidak mau kita harus mengikuti gaya atau budaya yang ada.

Inilah mengapa, produksi dikatakan dapat membentuk sebuah budaya. Namun tentu saja, produsen harus dapat menarik konsumennya dengan menanam makna atau nilai pada produknya.

Di balik semua itu, iklanlah yang berfungsi sebagai bahasa budaya yang membuat konsumen percaya bahwa produk tersebut merupakan objek untuk menunjukkan eksistensi pemakainya.

  1. Kesimpulan:

Setelah memaparkan kedua artikel tersebut, dapat disimpulkan bahwa produksi menjadi faktor penting yang menciptakan makna yang berkembang menjadi budaya dalam masyarakat. Ini merupakan pengembangan bentuk materialisme kultural yang berusaha mengeksplorasi pembentukan makna melalui produksi, yang mana makna sosial atau nilai simbolis suatu objek lebih penting daripada unsur fisik objek itu sendiri.

Kita dapat pula melihat sebuah pola kekuasaan namun dalam bentuk yang berbeda. Pada artikel “Food as a symbolic code”, kekuasaan atau aturan yang dibuat cenderung menempatkan kelompok tertentu di bawah yang lain (kaum Borjuis atau orang kaya). Sementara dalam artikel “Walkman”, kekuasaan lebih diperlihatkan dalam proses membangun atau membentuk kebudayaan baru, dalam hal ini gaya hidup yang dipengaruhi oleh produksi walkman.

Jika diperhatikan, terdapat dari dua artikel tersebut terdapat perubahan yang sangat jelas, yakni dari sebuah struktur yang kaku; aturan ada ditangan penguasa dan orang-orang kaya, menjadi pola yang lebih fleksible, yakni perubahan dan kebudayaan baru, mungkin saja terjadi.

Referensi:

Du Gay, P., Hall, Stuart, et al. (1997). Doing Cultural Studies: The Story of the. Sony Walkman. London: Sage. Durham, M.G. & Kellner, Douglas (ed.). (2001).

Sahlins, Marshall. “Food as Symbolic Code.” From Alexander, Jeffrey C., and Steven Seidman. Culture and Society: Contemporary Debates. Cambridge [England]: Cambridge University Press, 1990.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s