Kritik Terhadap Karya-Karya Fernand Braudel

Braudel in Power.

Pasca meninggalnya Lucian Fabvre, Fernand Braudel menjadi ahli sejarah Prancis paling terkemuka dan paling berkuasa sampai akhir hayatnya (1956-1985). Braudel menggantikan Fabvre sebagai direktur Annales dan presiden sixth section of Ecole.

Pada tahun 1963, Braudel juga mendirikan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk penelitian interdisiplin yang dinamakan The Maison des sciences del’Homme.

Pada masa kepemimpinannya, dia memindahkan kantor utamaSection, Annales, dan Maison ke 54 Boulevard Raspail. Hal itu dilakukannya agar para sejarawan Annales dapat dengan mudah bertukar pikiran dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh disiplin ilmu yang lain untuk terus mengembangkan ide-ide baru.

Pensiun pada tahun 1972, Braudel tetap memiliki pengaruh yang kuat. Ia memanfaatkan kewenangannya dalam dana riset, publikasi dan pendelegasian untuk mempromosikan ide ilmu-ilmu sosial sebagai “common market,” dengan ilmu sejarah sebagai partner yang dominan.

Sosok Braudel dikenal sebagai pendobrak paham konvensional yang ditunjukan melalui karya-karyanya.

Pengaruh pendekatan-pendekatan keilmuan Braudel juga menginspirasi generasi sejarawan selanjutnya seperti Pierre Chaunu dan Emmanuel Le Roy Ladurie.

The History of Material Culture

Setelah Braudel menulis The Mediterranean, Fabvre mengajak Braudel untuk menulis dua volume buku mengenai sejarah Eropa dari tahun 1400-1800.

Fabvre berfokus pada pemikiran dan keyakinan (thought and belief) sementara Braudel memfokuskan diri pada sejarah aspek material. Namun, Fabvre meninggal sebelum sempat menuliskan bagiannya dalam buku tersebut.

Sepeninggal Fabvre, Braudel menerbitkan tulisannya sendiri dalam Civilization materielle et capitalism.

Karya ini terdiri dari tiga volume dan berkaitan erat dengan kategori ekonomi (konsumsi, distribusi dan produksi), tetapi digambarkan dengan cara yang berbeda. Dalam pengantar volume pertama, Braudel menggambarkan sejarah ekonomi ibarat rumah berlantaitiga yang terdiri dari material civilization, economic life, dan superstructure.

Terdapat kemiripan struktur antara karya Braudel The Mediterranean dengan trilogi Civilization and Capitalism. Pada bagian pertama dari dua karya tersebut sama-sama membahas bagian sejarah yang nyaris tak berubah, bagian kedua mengenai institusi-institusi yang berubah perlahan, sedangkan bagian ketiga dengan aspek sejarah yang berubah sangat cepat.

Volume pertama buku ini membahas tentang rezim ekonomi klasik yang terentang selama 400 tahun. Buku ini menunjukkan perhatian Braudel pada analisa sejarah jangka panjang serta pendekatannya yang global. Salah satu argumennya bahwa tidak mungkin menjelaskan perubahan-perubahan besar selain menggunakan istilah global.

Berkenaan dengan subject-matter (tema bahasan), Braudel keluar dari batasan-batasan tema sejarah ekonomi konvensional. Dia meninggalkan kategori-kategori tradisional seperti agrikultur, perdagangan, industri dan lebih cenderung kepada tema-tema dalam kehidupan sehari-hari seperti makanan, uang, perkakas, dll. Dua konsep dasar dalam volume pertama ini adalah: everyday life dan material civilization.

Dalam pengantar volume kedua, Braudel menyatakan bukunya bertujuan untuk melakukan analisis sejarah terhadap tema-tema kehidupan sehari-hari. Meski bukan yang pertama melakukan hal ini, karya Braudel tetap dianggap berpengaruh karena ia memadukan sejarah kehidupan sehari-hari dengan sejarah besar ekonomi dan tren sosial umum.

Braudel juga mengemukakan konsep material civilization yang membedakan antara ranah rutinitas (zivilization) dengan ranah kreatifitas (kultur).BerbedadenganFabvre, Braudel tidak memperhatikan sejarah dari mentalities.

Seperti halnya dalam The Mediterranean, dalam karya ini Braudel menggunakan pendekatan sejarah geografis yang tertarik pada area kultural tempat terjadinya pertukaran barang (exchange of goods). Contohnya, ketika Braudel menjelaskan sejarah kursi yang masuk ke China pada abad kedua atau ketiga masehi kemudian digunakan secara luas pada abad 13. Pemakaian kursi ini mengharuskan bentuk-bentuk perkakas baru seperti meja yang tinggi. Sementara itu di Jepang, penggunaan kursi tidak mendapat sambutan hangat.

Kekurangan studi Braudel barangkali ia tidak membahas aspek simbolik  dari kebudayaan material, padahal beberapa sejarawan semasanya telah melakukan itu.

Braudel sangat memperhatikan detail dalam analisisnya. Karyanya bertambah brilian dengan kemampuannya mengadaptasi ide-ide dari disiplin ilmu lain untuk diterapkan dalam analisis sejarah.

 

Braudel on capitalism

Dalam pandangannya terhadap mekanisme distribusi, Braudel menawarkan penjelasan khas bahwa pada awalnya semua terstruktur dan multilateral.

Namun, berbeda halnya dengan Marx dan Webber, dia pun menolak penjelasan fenomena kultural dari satu aspek tertentu saja. Baginya, ekonom ijuga memiliki peran, seperti halnya sejarah, komunitas dan politik

Braudel mengalihkan fokus terhadap struktur kepada orientasi proses tumbuh kembang kapitalisme dalam buku The Perspective of the World. Berbeda dengan sebelumnya yang menggunakan pendekatan ekletik (pendekatan lintas disiplin), dalam kesempatan itu Braudel memfokuskan diri hanya pada ide satu orang, Immanuel Wallestein.

Buku ini juga menggambarkan perubahan sikap Braudel yang sebelumnya menjaga jarak dengan konsep Marxisme, pada akhirnya menerima framework pemikiran Marxis dalam ide-ide Wallenstein.

Salah satu kritik terhadap karya-karaya Braudel adalah mengenai ketidak akuratannya. Namun demikian, ketidak akuratannya dapat dimengerti dikarenakan lingkup rentang sejarahnya yang panjang.

Kritik lainnya adalah mengenai pembatasan dirinya dalam menggunakan Webber sertai stilah-istilah mengenai kapitalisme. Padahal dalam prakteknya, istilah-istilah seperti pre-enterprise culture atau anti-enterprise culture sangat relevan untuk menjelaskan sejarah ekonomi bangsa-bangsa tertentu.

Meskipun demikian, keistimewaan karya Braudel melampaui kekurangannya. Karya besar Braudel (tiga volume bukucivilization meterielle) sedikit banyak dapat memberikan gambaran sejarah ekonomi Eropa pada awal zaman modern dengan metode komparatif.

Hal lain yang layak didiskusikan lebih lanjut mengenai Braudel dan karyanya adalah penggunaan statistika. Braudel yang terkenal enggan mengikuti perkembangan metode sejarah yang digunakan dalam masa itu, metode kuantitatif dan sejarah mentalities, justru menggunakan metode tersebut dalam karyanya.

Meskipun dia menggunakan statistika dalam memperkuat argumentasinya dalam The Mediterranean edisi kedua, di sisi lain Braudel juga menentang penggunaan metode kuantitatif secara umum.

Dikemukakan pula bahwa penggunaan statistik dalam the Mediterranean bukan merupakan komponen utama melainkan komponen pelengkap.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s