Narasi Ibarat Pedang Bermata Dua

Dalam kehidupan sehari-hari, sadar ataupun tidak, kita sering bernarasi. Kita menyampaikan peristiwa atau suatu kejadian baik yang kita alami langsung maupun tidak kepada orang lain untuk memberikan informasi dan berupaya agar lawan bicara mengerti apa yang kita sampaikan, sehingga kita berusaha menggunakan kata-kata yang kohesi dan koheren.

Akan tetapi, yang sebenarnya kita lakukan adalah membuat pemahaman atas peristiwa atau kejadian tertentu melalui analisis-analisi rasional dengan kecenderungan mengungkapkannya dalam bentuk cerita (Johnstone, 2001).

Saat menuturkan kembali suatu kejadian, kita mencoba menghapuskan keraguan untuk dapat memahami sesuatu dengan baik melalui proses psikologis di otak yang dihubungkan dengan aktifitas yang berlangsung ketika kita berinteraksi  dengan yang lain.  Kita juga menghubungkannya dengan ekspektasi yang kita rangkai sendiri. Jadi narasi memiliki hubungan yang kuat dengan pemahaman identitas diri.

Johnstone (2001) juga mengungkapkan bahwa dalam proses narasi, berbagai macam pengungkapan identitas personal dan hubungan sosial dibangun secara bersamaan. Tak berbeda jauh dengan yang diungkapkan Renkema ketika mengungkapkan narasi dari bingkai sosiologi, yakni narasi dilakukan untuk menegaskan bagaimana hubungannya dengan orang lain dan untuk memposisikan diri sebagai bagian dari sebuah kelompok, keluarga, komunitas keagamaan, maupun budaya tertentu.  Narative mengandung nilai-nilai, kepercayaan, dan moral yang merupakan bagian dari kelompok ata budaya tersebut karena dibicarakan terus menerus. 

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa tak semua yang kita tuturkan merupakan narasi. Narasi harus dapat menjawab pertanyaan “Mengapa?” Mengapa cerita tersebut layak diceritakan? Hal ini lebih rinci dikemukakan Renkema bahwa narasi harus berupa kalimat informati tertentu yang memiliki past tenses, indikasi waktu dan tempat.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa narasi dapat diumpamakan sebagai pedang bermata dua, yang mana tujuannya tak hanya memberikan informasi atau nilai tertentu pada orang lain tapi juga sebagai upaya memahami diri sendiri, atau dengan kata lain sebagai upaya evaluatif yang akan tersimpan dalam kognitif kita, namun perlu diingat, narasi bukan merupakan penyelesaian suatu masalah. Ia hanya bertindak sebagai wadah evaluasi.

Referensi:

Johnstone, B. (2004). Discourse analysis and narrative.   In  D. Schiffrin, D. Tannen,   & H.E.  Hamilton (Eds.), The handbook of discourse analysis (pp. 635-649) Massachutes, USA:

Blackwell Publishers Ltd Renkema,       J.  (2004).  Introduction      to   discourse    studies.  Amsterdam:       John    Benjamins Publishing Co.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s