Batu Naga

Diadaptasi dari dongeng “Dragon Rock” Ellena Ashley

Cerita ini diawali dengan “Pada jaman dahulu kala’, sebab, begitulah cerita-cerita yang indah biasanya dibuka.

Jadi, pada jaman dahulu kala_ kalian boleh membayangkan_ tersebutlah sebuah desa kecil di lembah bersisi curam yang dipenuhi pohon cemara raksasa hijau meruncing. Rumputnya lebat dan tinggi, setinggi ujung kaus kaki anak kecil seperti kalian. Jadi jika berlarian di sana,  kalian harus mengangkat lutut tinggi-tinggi seperti sedang berlari di air sungai yang dangkal dan tenang.

Selain itu, banyak bunga liar warna warni yang menebarkan aroma wangi bersama embusan angin sepoi-sepoi. Lebah-lebah yang riang tak mau ketinggalan meramaikan lembah. Mereka berdengung merdu sembari mengumpulkan serbuk bunga yang menjadi makanan mereka.

Di desa kecil itu, semua orang hidup bahagia. Mereka rajin bekerja dan menjaga kerapian serta kebersihan rumah. Wajah anak-anak mereka juga selalu bersih.

Sayangnya, musim panas kali ini luar biasa kering dan terik, membuat anjing-anjing milik petani jadi mengantuk dan enggan bermain. Para petani pun bersiul malas seraya berdiri memandang ke kejauhan, mencoba memikirkan apa yang hendaknya mereka lakukan.

Pada pukul dua siang, orang-orang sudah malas beraktivitas. Para nenek merajut sambil terkantuk-kantuk di korsi goyang mereka sementara para petani, tertidur di atas tumpukan jerami.

Namun, meski cuacanya sangat panas, anak-anak kecil tetap bermain di hamparan padang rumput yang bergunduk. Mereka tak lupa mengenakan topi anyaman bertepi lebar dan tabir surya sebagai pelindung kulit. Mereka asik berceloteh seperti burung pipit di tempat favorit mereka

Nah, tempat favorit mereka inilah yang akan menjadi bagian terpenting dalam cerita kita ini.  Sebab, di sana, terdapat sebuah batu menakjubkan yang sangat besar, panjang, dan bersisik. Persis seperti naga yang sedang tidur.

Sebenarnya, anak-anak tahu bahwa itu naga. Orang dewasa pun tahu itu naga. Anjing, kucing, dan burung  juga tahu itu naga. Tapi tak seorang pun takut karena naga itu tidak pernah bergerak.

Anak laki-laki dan perempuan memanjat di atasnya, menusukkan batang kayu di tubuhnya, dan menggantung boot karet di kedua telinganya. Tapi Sang Naga tidak keberatan sedikit pun. Bahkan kadang-kadang, para lelaki memotong kayu bakar di ekornya yang berkelok-kelok  sementara para wanita memintal bulu domba pada punggung naga yang bersirip.

Dulu, sering kali pada malam yang sejuk, ketika bintang-bintang berkelap-kelip di langit dan anak-anak tertidur lelap, orang dewasa menghabiskan malam dengan secangkir coklat hangat di kursi dengan bantalan empuk di teras rumah. Di sanalah asal muasal tentang Sang Naga mulai diperbincangkan. Setiap keluaga memiliki versi yang berbeda-beda, kecuali satu mantra yang dipercaya benar oleh semua orang.

Ketika tanah gersang

Naga bangun dari tidur panjang

Bebaskan desa yang kerontang

Membuat danau yang slalu terkenang

Semua orang hafal betul mantra kecil ini. Bahkan kadang-kadang dibordir di serbet teh atau di sulaman nenek.

Hari-hari berlalu sangat lambat, sepi, dan tanpa hujan seikitpun. Ya, tak pernah turun hujan sejauh yang diingat oleh anak-anak. Air sumur mulai berubah cokelat karena berlumpur. Pakaian pun harus dicuci dengan air bekas mencuci piring. Rumput-rumput mengering seperti warna biskuit yang renyah. Bunga-bunga indah tertunduk lesu. Bahkan pohon-pohon menggantung cabang mereka seperti lengan manusia yang lelah. Lembah semakin coklat dan semakin gersang setiap harinya. Seperti sebuah mangkuk kotor yang berdebu.

Penduduk desa semakin khawatir dan mengeluh. Mereka mendongak ke atas mencari awan hujan di langit yang biru dan cerah. Namun awan yang ditunggu-tunggu tak pernah datang.

“Kisah Sang Naga hanyalah khayalan belaka,” ujar Nyonya Greywhistle, si penjaga toko.

“Ya, Sang Naga tidak pernah bergerak sedikit pun,” jawab pelanggannya lesu.

Kini cuacanya sudah terlampau panas bagi anak-anak untuk bermain di bawah sinar matahari. Mereka hanya duduk-duduk di bawah naungan pohon, menggali tanah kering, dan mematahkan ranting yang rapuh.

“Sang Naga akan segera membantu kita,” ujar seorang anak yang paling jangkung.

“Ya, Sang Naga harus melakukan sesuatu” timpal yang berambut ikal.

“Aku yakin Sang Naga akan membantu kita” si gembul menegaskan..

Anak-anak mengangguk serentak, tanda setuju.

Seminggu berlalu tapi tak ada perubahan. Orang-orang bertahan sebisa mereka. Mata mereka cekung dan tubuh mereka sangat lemas. Beberapa orang mulai marah, menatap sinis setiap kali melewati tempat sang naga berbaring.

Akan tetapi, anak-anak membuat sebuah rencana hebat.

Diam-diam mereka berjalan mengelilingi desa; memilih dan memetik bunga-bunga yang memudar. Lengan kecil mereka terulur penuh tumpukan bunga hingga menyentuh dagu.Lalu mereka mengendap-endap menuju Sang Naga yang sedang berbaring, tak bergerak seperti biasa.

Anak laki-laki dan perempuan meletakkan karangan bunga di sekitar Naga, membentuk lingkaran besar. Kelopaknya  disebar di sekitar kepala dan hidung sang Naga. Kemudian mereka menari dan melompat-lompat sembari menyanyikan mantra tentang Sang Naga yang telah mereka hafal di luar kepala. Tiba-tiba..

HAAAACIIIIIIIIIHH!!!”

Sang Naga bersin, mengeluarkan udara kencang seperti roket hingga ia terlempar sejauh lima puluh langkah. Debu-debu di sekitarnya berterbangan.

HAAAACIIIIIIIIHH!!”

Sang naga bersin lagi dengan sangat keras hingga tanah kering di sekitarnya pecah dan meledakkan tanah serta akar-akar pohon. Seperti rudal, akar-akar tersebut melesat ke langit.

Kemudian, sesuatu yang lain terjadi…

Orang-orang mendengar suara namun mereka tak yakin dengan suara tersebut.  Mereka mendengar suara denting yang lama tak mereka dengar.

Lalu, mata mereka terbelalak heran, diikuti senyum yang mulai merekah, kemudian berubah menjadi  sorak sorai yang gegap gempita.

“Horeeeeeee!! Horeeeeeee!!” teriak mereka kegirangan.

Air! Ada air!

Dari dalam lubang, air merembes kemudian menggelegar, menuruni bukit dan membasahi dasar lembah.

Air yang deras menjatuhkan tumpukan jerami seorang petani, tapi ia tak peduli. Sepeda seorang guru terseret arus sungai, ia juga tak peduli. Bahkan air merobohkan ruang ganti para Pemain Bowling Wanita, tapi mereka malah terbahak-bahak sambil memukul-mukul paha mereka sendiri.

Ketika banjir menggenangi lapangan golf, mengisi enam belas dari sembilan belas lubang, para lelaki malah bersorak senang. Mereka bersiul dan melemparkan topi mereka di udara.

Lembah yang tadinya seperti mangkuk raksasa berdebu,   kini berubah mengkilap , memantulkan cahaya yang berkilau-kilau di permukaan danau.

“HOAAAAAMMM, “desah sang Naga yang masih mengantuk. Ia menunjukkan giginya yang sempurna bak bintang film.

“Berhubung aku sudah bangun…” Sang Naga tak menyelesaikan kalimatnya. Sambil terhuyung-huyung iya malah mendekati danau.

Tanpa di duga, ia segera melompat, menghilang di dalam air yang gelap dan dingin. Dengan sirip dan kibasan ekor, ia melambai pada sumua orang, meninggalkan riak di permukaan danau.

Sejak saat itu, mereka tak pernah melihat sang Naga lagi.

Semua keluarga pun membenahi dan membangun desa. Mereka juga mendirikan klub berlayar untuk anak-anak dan klub menyelam untuk  orang-orang tua. Tak lupa, mereka mendirikan panggung musik dan monumen di tempat sang Naga pernah berbaring.

Setiap tahun, untuk memperingati peristiwa tersebut, mereka membuat lingkaran besar dari karangan bunga dan rempah-rempah.

Sekolah pun diliburkan pada peringatan  yang kemudian dikenal sebagai Hari Naga Air itu, yang mana, anak-anak akan mengenakan topeng naga yang mereka kerjakan sepanjang minggu.

Mereka melompat-lompat, bertepuk tangan, dan bernyanyi dengan sangat riang setiap kali merayakan Hari Naga Air.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s