Semantik

  1. Hubungan Semantik, Pragmatik, dan Sosiolinguistik

Semantik, pragmatik, dan sosiolinguistik merupakan cabang ilmu yang berada di bawah payung ilmu Linguistik. Untuk melihat keterkaitan di antara ketiganya, kita dapat merujuk pada definisi masing-masing yang diungkapkan oleh para ahli.

Leech (1982) mengungkapkan bahwa semantik adalah ilmu yang mengkaji makna sebagai ciri ungkapan suatu bahasa yang tidak berkaitan dengan situasi ujar, penutur, dan petutur. Sementara, Pragmatik didefinisikan oleh Parker (1986) sebagai ilmu yang mengkaji makna bahasa dan bagaimana bahasa tersebut digunakan dalam komunikasi. Dan Wijana (2006) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang memandang atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa itu di dalam masyarakat.

Dari definisi di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa ketiga cabang ilmu tersebut mempelajari tentang makna, hanya saja semantik lebih mengarah pada pendekatan struktur, pragmatik mengarah pada interpretasi peserta tutur, dan sosiolinguistik mengarah pada pendekatan sosial.

  1. Relasi makna sintagmatik dan paradigmatik

Istilah relasi makna sintagmatik dan paradigmatik awalnya dikemukakan oleh Bapak Linguistik Modern, yakni F.de Saussure (1857-1913). Sementara dalam bukunya, Cruse (1986: 100) menjelaskan bahwa  relasi makna sintagmatik melihat setiap kata yang tersusun dalam suatu tuturan berhubungan secara semantis dan linear atau horisontal sehingga tuturan tersebut berterima. Misalnya,  kalimat “Safrizal mengerjakan tugas Semantik yang diberikan Pak Afdol” dikatakan berterima karena memiliki susunan sintaksis dan unsur-unsur yang ada pada relasi ini bersifat tetap. Akan tetapi, kalimat tersebut akan sulit dipahami jika kita menempatkan unsur-unsur dalam kalimat tersebut semaunya, contoh: “Semantik tugas mengerjakan diberikan Safrizal Pak Afdol yang”, atau meskipun kalimatnya berterima, seperti “Pak Afdol mengerjakan tugas yang diberikan Safrizal” tetap saja tidak dapat dibenarkan karena menimbulkan makna yang berbeda. Akan tetapi, jika tidak mengubah makna dan berterima, tentu saja perubahan susunannya boleh dilakukan. Jadi, kesimpulannya, hubungan sintagmatik menunjukan hubungan makna dan fungsi antara satuan bahasa sesuai tataran.

Sementara dalam hubungan paradigmatik, hubungan antara satuan bahasa mempunyai penyesuaian tertentu secara sistematis. Lebih jauh lagi, Rahyono (2011) menjelaskan bahwa antar kata pada suatu tuturan memiliki kemungkinan untuk menempati posisi yang sama. Misalnya, dalam kalimat di bawah ini, kata tugas Semantik memiliki hubungan paradigmatik dengan kata ujian Kajian Wacana dan PR Bahasa Arab. Meskipun diganti, semua kalimat memiliki makna yang berterima:

(1) Safrizal mengerjakan tugas Semantik yang diberikan Pak Afdol,

(2) Safrizal mengerjakan ujian Kajian Wacana yang diberikan Pak Afdol,

(3) Safrizal mengerjakan PR Bahasa Arab yang diberikan Pak Afdol.

 

  1. Hubungan konseptual antara semantik gramatikal dan semantik leksikal

Menurut Chaer (2009:62), makna gramatikal  adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Jadi tataran tata bahasa yang dikaji adalah pada tingkat morfologi (struktur intern kata dan proses-proses pembentukannya) dan sintaksis (hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar; frase; klausa; kalimat)

Sementara semantik leksikal merupakan cabang semantik yang menyelidiki makna kosakata sebagai satuan mandiri tanpa memandang posisinya dalam kalimat. Jadi, bisa dikatakan bahwa semantik juga membahas makna pada tingkat morfologi (morfem/ kata). Akan tetapi, dalam semantik leksikal, yang menjadi fokusnya adalah kata, bukam leksem. Untuk lebih mudah memahami, kita lihat contoh di bawah ini.

Makna gramatikal dari kata ‘kuda’ (seekor kuda) berubah menjadi ‘banyak kuda’ setelah terjadi proses reduplikasi, yakni menjadi ‘kuda-kuda’. Atau, kata ‘tulis’, memiliki perubahan arti yang berbeda-beda setelah ditambahan imbuhan seperti dalam kata penulis, tulisan, ditulis, dan penulisan.

Sementara, makna leksikal ‘singa’, misalnya merujuk pada binatang buas, bentuknya hampir sama dengan macan, pada singa jantan terdapat bulu panjang di muka (sebagian kepala bagian depan). Makna ini cukup jelas dalam kalimat “Singa di panggung sirkus menarik perhatian pengunjung dengan berbagai atraksi”. Akan tetapi, singa dalam kalimat “Dialah singa padang pasir, setan pun takut berpapasan dengannya” bukan merujuk pada binatang buas yang menggambarkan konsep di kepala kita, melainkan sebuah gelar yang diberikan pada salah seorang sahabat Rasul karena keberaniannya, yakni Umar bin Khottob.

Dari uraian di atas, terlihat sangat jelas bagaimana makna semantik gramatikal dan semantik leksikal disajikan dengan sangat berbeda pada sebuah tuturan.

  1. Relasi makna denotasi dan konotasi

Makna denotasi (makna sebenarnya) adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan atau pengalaman lainnya. Dengan kata lain, makna denotasi menyangkut informasi faktual objektif. Contoh, “Safrizal sedang makan rujak cingur”, bermakna seseorang memasukan makanan ke dalam mulutnya.

Sementara makna konotasi merupakan perubahan nilai arti kata yang disebabkan pendengar memakai perasaannya untuk mangartikan kata itu. Di Indonesia, para ahli Linguistik seringkali menyamakan makna konotasi dengan makna kiasan, padahal makna kiasan merupakan tipe makna figuratif, bukan makna konotasi. Contoh:

  1. Para mujahid di Palestina gugur karena membela negara
  2. Perampok itu mampus ditembak polisi

Kedua kata yang dicetak miring memiliki makna denotasi yang sama, yakni mati. Namun, gugur berkonotasi positif, sementara mampus berkonotasi negatif. Jadi pembedaan makna denotatif dan konotatif didasarkan pada ada atau tidak adanya “nilai rasa”. Sebuah kata memiliki makna konotatif apabila kata itu mempunya “nilai rasa”, baik positif maupun negatif.

    5. Relasi antara hiponimi- meronimi

Hiponimi adalah relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generik, seperti makna tulip, kamboja, bougenvile, dan aster dalam makna bunga. Bunga di sini merupakan superordinat (hiperonim) bagi tulip, kamboja, bougenvile, dan aster, dan sebaliknya, tulip, kamboja, bougenvile, dan aster berhiponimi dengan bunga.

Meronimi memiliki relasi makna yang mirip dengan hiponimi karena relasi maknanya bersifat hierarkis, namun tidak menyiratkan pelibatan searah, tetapi merupakan relasi makna bagian keseluruhan. Contoh, atap bermeronimi dengan rumah.

6. Hubungan makna: kolokasi, idiom, peribahasa, dan keterkaitannya dengan budaya

 

Menurut Kridalakasana (2009:127), kolokasi adalah asosiasi tetap yang terjadi antara satu kata dan kata lain yang saling berdampingan di dalam satu kalimat. Masalah kolokasi muncul ketika kata yang bersinonim, dalam penggunaannya, tidak secara mutlak dapat saling menggantikan. Contoh, kata ‘cuci’ bersinonim dengan ‘basuh’, tapi di Indonesia, kita tidak mengatakan ‘basuh piring’; ‘basuh muka’ atau ‘basuh tangan’ lebih lazim digunakan.

Berbeda dengan kolokasi, idiom diartikan sebagai gaya dan tata bahasa yang merupakan hasil dari penggabungan dua kata atau lebih sehingga menimbulkan makna baru yang tidak memiliki hubungan makna yang dekat dengan kata yang membentuknya. makna yang dikandung oleh idiom tersebut akan berubah atau bahkan frasa tersebut dapat kehilangan sifat figuratifnya jika dilakukan perubahan (Cruse (1986:37). Misalnya, ‘memeras keringat’ yang artinya bekerja keras secara keseluruhan tidak sama dengan ‘memeras’ atau ‘keringat’. Atau jika kata ‘keringat’ diganti ‘air’ misalnya, artinya tidak akan sama dan sifat figuratifnya hilang.

Sementara peribahasa merupakan kalimat atau kelompok perkataan yang biasanya mengiaskan sesuatu maksud tentu (Poerwadarminta dalam Sudaryat, 2009: 89). Contoh, ‘Berjalan peliharalah kaki, berkata peliharalah lidah’ memiliki makna dalam bekerja selalu ingat Tuhan dan berhati-hati.

Kaitan kolokasi, idiom, dan peribahasa dengan kebudayaan dapat dilihat dari fungsi masing-masing dalam menggambarkan ciri khas kebudayaan di mana ketiganya digunakan. Oleh sebab itu, tak mengherankan jika dikatakan bahwa bahasa menunjukan ciri khas sebuah bangsa.

Contoh, peribahasa Jepang “To make the tea cloudy” atau “Membuat teh yang berawan” yang memiliki makna mengelak atau tidak berkomitmen pada sesuatu berasal dari ritual membuat/ meminum teh di Jepang. Mungkin, peribahasa “Membuat teh yang berawan” akan terasa aneh jika dipakai di Indonesia sebab kita tidak memiliki ritual minum teh yang khusus seperti di Jepang. Contoh lainnya, idiom ‘adu domba’ yang diambil dari kebiasaan masyarakat di bagian barat Pulau Jawa mungkin akan terasa aneh jika diterapkan di negara yang tidak ada domba atau tradisi mengadu domba.

 

 

 

Daftar Pustaka:

Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2007. Lingustik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Cruse, D.A. (1986). Lexical Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.

Rahyono, F.X. (2011). Studi Makna. Jakarta: Penaku.

Felicity O’Dell dan Michael McCharty. 2008. English Collocation in Use. UK: Cambridge

University Press

Muhadjir. 2016. Semantik dan Pragmatik. Tangerang: Pustaka Mandiri.

Yuwono, Untung, dkk. 2007. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta:

PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s