Literary Love as Kantian Sublime; Wuthering Heights and The Sea, The sea.

Dalam bukunya yang berjudul Art, Literature and Culture from a Marxist Perspective, McKenna mencoba menyajikan 20 esai kebudayaan dari sudut pandang marxisme. Ia mengangkat objek yang berbeda-beda mulai dari film, musik, lukisan, hingga novel. Salah satu kritik novel yang ia tulis, yang kemudian menjadi pembahasan dalam paper ini adalah Literary Love as Kantian Sublime; Wuthering Heights and The Sea, The sea.

Dalam esai tersebut, McKenna menganalisis cinta sebagai sublim pada novel Wuthering Heights karya Emily Bronte dan The Sea, The Sea karya Irish Murdoch dengan model Kantian.

Dalam karyanya, Murdoch menulis kisah seorang mantan direktur teater bernama Charles Arrowby yang pindah ke sebuah tempat terpencil di sekitar pantai. Tak disangka, di sana ia bertemu Hartley, cinta lamanya yang telah memiliki kehidupan sendiri dengan keluarganya. Akan tetapi, kenangan akan cintanya tetap tumbuh dan menjadi obsesi yang kelak menghancurkan dirinya sendiri.

Meskipun Murdoch piawai menyulam nilai estetis dengan begitu halus, ia bukanlah seorang narator yang handal. Ambiguitas dan kebingungan penulisnya begitu terlihat dibeberapa bagian, terutama pada tiga bagian pertama. Ia mendeskripsikan karakter Hartley dengan samar. Sulit membedakan apakah Harley benar-benar ada atau hanya hidup di dalam hayalan Arrowby semata.

Akan tetapi, ini justru menunjukan betapa novel ini memiliki filosofis yang mendalam; yang melihat cinta sebagai suatu zat yang tak terbatas dan memiliki kemurnian sejati. Di sinilah kita dapat melihat bagaimana Murdoch berusaha mengeksplorasi cinta yang melampaui batas imajinasi kita dengan gagasan Kant mengenai sublim.

Kata sublim itu sendiri lazim digunakan untuk menyatakan sifat agung, tinggi, atau halus dalam karya seni. Dalam novel, tentu saja dilihat dari pencapaian literer melalui metafora yang melampaui batas-batas pada umum yang dibangun melalui keagungan pikiran, kekuatan imajinasi, gaya bahasa yang tepat, pemilihan dan penyusunan kata secara efektif, dan akhirnya penataan keseluruhan karya secara organik.

The Sea, The Sea, oleh McKenna dibandingkan dengan ‘nenek moyang’ terdekatnya, yakni Wuthering Heights yang ditulis oleh Emily Bronte. Wuthering Heights merupakan nama sebuah kediaman yang menjadi saksi atas persaingan dan pembalasan dendam yang sempurna. Heatcliff, yang merupakan anak angkat di Wuthering Heights, harus pergi membawa dendam sekaligus cintanya karena berbagai konflik yang terjadi. Suatu hari ia kembali untuk membayar tuntas dendamnya pada orang-orang yang ia benci, termasuk pada Catherine, wanita yang tidak dapat dimilikinya hingga akhir hayatnya.

Cinta Heatcliff kepada Catherine memiliki kesamaan dengan obsesi Arrowby kepada Hartley. Kedua novel itu sama-sama mengangkat kisah cinta yang pilu sebagai sublim, yang kemudian menjadi poros kelam dalam keduanya.

Hubungan Heatcliff dan Chaterine yang kelam dan destruktif dikontraskan dengan kelembutan, kasih sayang, dan keharmonisan antara Catherine dan suaminya, Edgar Linton. Pun dalam The Sea, The sea, hubungan semacam ini ditunjukan oleh Lizzie dan  Arrowby sebelum semuanya berubah karena kemunculan Hartley di antara mereka.

Bagian dalam kedua novel yang juga memiliki kemiripan adalah ketika Cahtherine dipaksa mengatakan ‘I am Heathcliff! He’s always, always in my mind: not as a pleasure, any more than I am always a pleasure to myself, but as my own being.” Kemudian Arrowby dalam The Sea, The Sea pun mengatakan hal yang senada, “We loved each other, we lived in each other, by each other. We were each other”

Ini, diungkapkan oleh McKenna merupakan cinta yang bersifat platonis, namun bukan dalam arti konvensional yang bersifat ilahiyah yang menentang cinta yang berorientasi pada fisik-seksual-materi. Plato memberi gambaran tentang cinta dalam The Symposiun bahwa manusia, laki-laki dan perempuan, awalnya merupakan mahluk yang bersatu, tapi karena rasa keingintahuannya yang tinggi, manusia ingin mengukur surga. Hal itu menggusarkan dewa-dewa sehingga Zeus membelah manusia menjadi dua, jadilah sejak saat itu manusia berjalan di muka bumi untuk mencari bagian yang terpisah dari dirinya, untuk kemudian bersatu seperti sediakala.

Selain menggambarkan hasrat seksual (ditandai dengan menyatunya pria dan wanita), mitologi di atas juga merepresentasikan keterasingan dan kesepian yang tak tertahankan yang disebabkan oleh perpisahan. Akan tetapi, baik dalam The Sea, The Sea maupun Wuthering Heights, hubungan seksual terpinggirkan karena kesepian yang menghujam jantung dan tidak adanya ontologi (kenyataan yang menjurus pada kebenaran) yang kemudiana mendorong Arrowby dan Heatcliff mengalami gangguan psikis. Kerinduan Heatcliff pada Chatherine dan Arrowby pada Hartley bagaikan seseorang yang kehilangan kaki karena kecelakaan tapi masih mengalami rasa sakit traumatis.

Selain itu, ada juga yang mengkritisi kedua novel tersebut dari sisi agama. Diibaratkan kehilangan yang dialami Arrowby dan Heatcliff mencerminkan manusia (Adam-Hawa) ketika diusir dari surga. Atau kita juga dapat melihatnya dari dialektika Hegelian klasik, yang mana terdapat interversi nasib dalam keterpisahan Heatliff-Chaterine dan Arrowby-Hartley.

Kesimpulan

Kritik Marxis mememandang karya-karya sastra sebagai cerminan-cerminan institusi sosial dari mana mereka berasal. Akan tetapi Menurut McKenna, terdapat keganjalan dalam novel tersebut. Tokoh utama begitu tenggelam dalam kenangan masa lalu yang mungkin bahkan hanya fatamorgana baginya. Ia mempertanyakan apakah jenis cinta semacam itu benar-benar kita temui di kehidupan nyata?

Terlepas dari itu, Murdoch dan Bronte menyajikan cinta dengan cara yang berbeda. dengan karya-karya kebanyakan yang dikategorikan sebagai karya indah yang menimbulkan rasa suka, memperlihatkan kehalusan, kelembutan, keluwesan, kegemilangan, bahkan kemungilan. Cinta dalam kedua novel itu merupakan sublim yang lebih menyentuh melalui kepedihan, kekelaman, kesunyian, bahaya, kedalaman, kekosongan, sekaligus kemegahan, kemahaluasan, hingga ketakterhinggaan.  Sehingga,  jelaslah bahwa bentuk marxis yang dapat kita tangkap dalam kedua novel tersebuat adalah alienasi, yakni suatu keadaan dimana individu terasing dari dirinya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s