Mona Baker: Masalah Ketidaksetaraan dan Strategi Penerjemahan pada Tingkat Kata

Dalam bukunya, Baker membagi masalah ketidaksetaraan menjadi beberapa kategori sekaligus menawarkan strategi-strategi yang memudahkan penerjemah mengatasi kesulitan-kesulitan dalam melakukan penerjemahan. Berikut akan dijabarkan secara singkat mengenai masalah dan strategi tersebut.

  1. Masalah ketidaksetaraan
    • Konsep kebudayaan yang spesifik

Setiap daerah tentu memiliki budaya yang berbeda-beda. Hal ini mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam menerjemahkan konsep yang bersifat spesifik terkait kebudayaan tertentu. Misalnya saja kata “privacy” yang merupakan konsep yang sangat “Inggris” sehingga sulit dipahami di budaya lain.

  • BSu secara leksikal tidak ditemukan di BSa

Terkadang, konsep tertentu dikenal di Bsu. Namun, padanan langsung yang mewakili konsep tersebut sulit ditemukan karena secara leksikal memang tidak ada di Bsa. Misalnya kata “savoury” yang mengekspresikan konsep yang dapat dimengerti namun tidak memiliki padanan kata di Bsa.

  • BSu memiliki kerumitan secara semantik

Baker mengungkapkan bahwa “a  single  word  which  consists  of  a  single

 

morpheme  can  sometimes  express  more  complex  set  meanings  than  a  whole  sentence”. Ini berarti suatu kata dapat menjadi sangat rumit secara sematik ketika dialihkan ke bahasa lain. Misalnya kosa kata Brazil “arruaco” yang jika diterjemahkan ke bahasa Inggris akan menjadi “clearing the ground under coffee tress of rubbish and pilling it in the middle of the row in order to aid in recovery of beans dropped during harvesting” (ITI News, 1899: 57) (ibid).

  • BSu dan Bsa membuat perbedaan dalam pemaknaan kata

Dalam bahasa Indonesia, kehujanan dan hujan-hujanan memiliki makna yang berbeda. Akan tetapi ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kita akan menemukan kesulitan kecuali kita tau konteks apakah orang yang bersangkutan sudah tau atau tidak bahwa sedang turun hujan.

  • BSa tidak memiliki superordinat

Perbedaan budaya dan kondisi lingkungan tentu saja memungkinkan terjadinya ketiadaan kata yang spesifik atau kata yang general dalam suatu bahasa. Kata “facilities” misalnya, merujuk pada beberapa hal yakni “equipment”, “building services”, dll sementara dalam bahasa Rusia kata-kata tersebut tidak ditemukan, sebaliknya, di Rusia dikenal konsep yang lebih spesifik yang merujuk pada “facilities” yakni sredstvaperedvizeniya           („means         of      transport‟),       name         („loan‟),  neobkhodimyepomescheniya                  („essential           accomodation‟),             and  neobhodimoeoborudovanie („essential equipment‟)

  • BSa tidak memiliki hiponim

Berbanding terbalik dengan poin di atas, suatu bahasa mungkin saja tidak memiliki hiponim untuk kata tertentu. “Article” misalnya, dalam bahasa Inggris memiliki banyak hiponim, di antaranya “feature”,   “survey”,   “report”,  “ critique”,   “commentary” dan “review”.

  • Perbedaan perspektif fisik dan interpersonal

Perspektif ini melihat bagaimana hubungan sesuatu atau seseorang dengan yang lainnya. Misalnya dalam bahasa Jepang, terdapat enam cara mengungkapkan kata “give”, tergantung siapa yang memberikan siapa. Kata-kata tersebut adalah “yaru”, “ageru”, “morau”, “kureru”, “itadaku” , dan “kudasaru” (McCreary, 1989)

  • Perbedaan dalam makna ekspresif

Secara proporsional, kata BSu mungkin saja ditemukan di BSa. Akan tetapi, terkadang nuansa yang dikandung kedua kata tersebut tidak saling mewakili. Salah satu bisa lebih ekspresif atau sebaliknya.

  • Perbedaan bentuk

Perbedaan bentuk satu bahasa dengan bahasa lainnya sering kali menimbulkan kesulitan dalam menemukan padanan kata. Sufix –able dalam bahasa Inggris seperti pada kata “conceivable”, “retrievable” dan “drinkable” misalnya, tidak ditemukan dalam bahasa Arab sehingga dalam melakukan penerjemahan, paraprase sering diterapkan.

  • Perbedaan dalam frekuensi dan tujuan penggunaan bentuk tertentu

Karakteristik setiap bahasa berbeda-beda. Dalam bahasa Inggris, bentuk kontinue –ing digunakan untuk mengikat klausa dengan frekuensi lebih sering dibanding bahasa yang lain seperti Jerman dan Swedia.

  • Penggunaan kata pungutan

Penggunaan kata pungutan di BSu juga seringkali mengakibatkan kesulitan dalam melakukan penerjemahan. Kata “au fait”, “chic” dan “alfresco” dalam bahasa Inggris misalnya, digunakan karena mengandung nilai prestis.

  1. Strategi penerjemahan untuk mengatasi ketidaksetaraan pada tingkat kata:
    • Penerjemahan menggunakan kata yang lebih umum (superordinat)

Strategi ini biasanya digunakan ketika BSa tidak memiliki kata yang spesifik. Konsekuensi menggunakan strategi ini adalah hasil terjemahan cenderung berlebihan atau oversimplifikasi (lost in meaning).

  • Penerjemahan dengan kata yang lebih netral/ kurang ekspresif

Strategi ini digunakan ketika BSa tidak memiliki kata yang umum. Misalnya:

SL: The panda is something of a zoological mystery.

TL:   (back-translated   from   Chinese):   The   panda   may   be   called   a riddle in zoology.

Sebenarnya, dalam bahasa Cina terdapat padanan kata yang merujuk pada “mystery”. Akan tetapi pada umumnya diasosiasikan dengan agama sehingga akan terasa janggan ketika digunakan dalam konteks zoologi.

  • Penerjemahan dengan substitusi budaya

Strategi ini digunakan ketika BSa tidak memiliki makna yang proporsional terkait konsep budaya tertentu. Kata yang lebih akrab dalam masyarakat Bsa biasanya dijadikan sebagai substitusi.

  • Penerjemahan menggunakan kata pungutan (dan penjelasan)

Startegi ini lazim digunakan untuk mengatasi masalah konsep budaya atau konsep modern.

  • Penerjemahan dengan melakukan paraprase menggunakan kata terkait

Startegi ini digunakan ketika sebuah konsep dikenal secara leksikal namun berbeda dalam bentuk.

  • Penerjemahan dengan melakukan paraprase menggunakan kata yang tidak terkait

Strategi ini digunakan ketika konsep BSa tidak tersedia secara leksikal di BSa. Paraprase dapat dilakukan, salah satunya, dengan memodifikasi superordinat.

  • Penerjemahan dengan omisi

Strategi penghilangan kata ini boleh dilakukan selama tidak mengubah makna penting dalam sebuah teks. Misalnya ketika penjelasan yang terlalu panjang memiliki kemungkinan mengganggu kenyamanan pembaca.

  • Penerjemahan dengan ilustrasi

Strategi ini digunakan ketika BSa tidak memiliki padanan kata yang merujuk sesuatu yang bisa diilustrasikan, khususnya ketika space terbatas, seperti pada kemasan sebuah produk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s