Pierre Bourdieu: Key Concepts

Piere Bourdieu merupakan seorang filsuf abad modern yang lahir di Perancis pada tahun 1930. Ia mencoba memahami struktur sosial masyarakat sekaligus perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalamnya. Pemikiran-pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Emile dan Jean Paul Sarte.

Bagi Bourdieu, analisis sosial selalu bertujuan untuk membongkar struktur dominasi ekonomi maupun dominasi simbolik yang selalu menutupi ketidakadilan di dalam masyarakat. Beberapa istilah-istilah kunci dalam pemikirannya adalah habitus, arena, kelas sosial, capital, doxa, histeresis, interest, conatus, kekerasan simbolik, dan refleksivitas.

Habitus seperti yang dirumuskan oleh Bourdeu merupakan nilai-nilai sosial yang dihayati oleh manusia dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku manusia.

Misalnya, sejak kecil kedua orang tua saya selalu melibatkan saya dalam berbagai kegiatan outdoor dan aktivitas-aktivitas yang berkait erat dengan lingkungan. Ketika memasuki bangku Sekolah Menenga Atas dan kuliah, dari sekian banyak organisasi, saya memilih berkecimpung dalam organisasi Pencinta Alam yang kemudian sangat menikmati berbagai kegiatan olahraga ekstrim serta aktif dalam dalam aktivitas-aktivitas sosial dan lingkungan. Habitus yang tanpa sadar ditanamkan orang tua saya sejak kecil tersebut begitu kuat tertanam hingga menjadi perilaku fisik yang disebut Hexis.

Kapital adalah modal yang memungkinkan manusia untuk memperoleh kesempatan/ kekuasaan dalam berbagai bidang. Modal ini bisa berupa modal intelektual (pendidikan), ekonomi (uang), serta budaya (latar belakang dan jaringan).

Karena memiliki habitus berkecimpung dalam aktivitas sosial dan lingkungan, setelah lulus kuliah saya memiliki modal besar yang membuka kesempatan bagi saya untuk bergabung dengan NGO yang konsen dalam dua bidang itu. Saya juga memiliki jaringan yang banyak yang tentunya memudahkan saya dalam melakukan tugas-tugas saya di dalam NGO tersebut. Modal-modal ini saya peroleh karena saya memiliki habitus yang tepat.

Arena merupakan ruang khusus yang ada di dalam masyarakat. Arena ini merupakan sesuatu yang dinamis dan banyak potensi di dalamnya. Misalnya ketika seseorang ingin menjadi pengusaha yang sukses, tentu ia butuh skill dan pengalaman yang ia peroleh dari habitus yang tepat. Tak hanya itu, dalam hal ini kapital ekonomi sebagai modal awal serta kapital budaya (relasi) juga mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam berbisnis.

Kelas sosial yang kemukakan oleh Bourdieu memiliki lingkup yang lebih luas. Jika Marx hanya membedakan kelas sosial menjadi kelas bourjois dan proletariat (masalah ekonomi dan produksi), Bourdeu mengelompkkannya berdasarkan kekayaan, kelas sosial, pendidikan, habitus, dll. Misalnya, di dalam kelas, kita dapat mengatakan bahwa siswa yang aktif dalam berbagai diskusi memiliki kelas sosial yang lebih tinggi dibanding siswa yang pasif.

Dominasi simbolik adalah penindasan dengan menggunakan simbol-simbol sehingga tidak dirasakan sebagai penindasan, melainkan sebagai sesuatu yang secara formal perlu dilakukan, misalnya untuk menegakkan aturan. Contoh kasus, dosen saya menugaskan untuk membuat laporan bacaan dan wajib dikumpulkan pada tanggal 24 November sebelum pukul 12.00. Mau tak mau saya harus mematuhi aturan tersebut jika tak ingin mendapatkan sanksi pengurangan nilai.

Doxa merupakan pandangan penguasa/ aktor sosial dominan yang dianggap sebagai pandangan hidup masyarakat. Ini bersifat fundamental dan tanpa melalui proses pemikiran. Doxa adalah wujud pemikiran dari mekanisme dominasi simbolik. Misalnya, contoh yang paling mudah kita ingat adalah mekanisme kekuasaan Orde Baru yang otoriter. Suharto berhasil memasuki pikiran yang dikuasai agar sehingga ia pernah diangkat menjadi presiden seumur hidup, meski pada akhirnya ia dilengserkan.

Hysteresis merupakan efek dari perubahan struktur arena karena tidak sesuai dengan habitus. Perubahan ini terjadi karena ada kebingungan dari agen. Jika proses penerimaan dalam doxa bersifat beku atau sudah diteima masyarakat, dalam hysteris terdapat semacam cultural shock atau kebingungan. Proses ini belum sampai ke tahap doxa sehingga terjadi perubahan-perubahan dalam arena atau habitus.

Konantus merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kelas atau posisi sosial dalam arena. Misalanya, seorang anak nelayan miskin berusaha mengubah perekonomian serta posisi sosial keluarganya dengan mengerahkan seluruh kemampuannya agar mendapat prestasi yang cemerlang di kelas. Setelah lulus ia berhasil melamar pekerjaan di perusahaan bergengsi dan memperbaiki kehidupan keluarga. Di sini, kita melihat ada keinginan dan usaha tertentu yang dilakukan demi melakukan perubahan ke arah lebih baik, Namun, meskipun keadaan telah berubah, ia tidak bisa menghilangkan asal-usulnya.

Refleksivitas adalah sebuah konsep metodologi yang didasarkan pada pertanyaan apakah, bagaiaman, dan sejauh mana proses penelitian memungkinkan subjek pengetahuan. Tujuannya untuk membangun eksplisit dua arah antara struktur objektif intelektual dan struktur sosial.

Referensi:

Bourdieu, Pierre. Key Concepts, North Yorkshire: Cromwell Press, 2008.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Laporan Bacaan

Teori Kebudayaan

(Djoko Marihandono)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Sri Rahmawati

1606849253

 

 

 

 

 

Jurusan Linguistik Penerjemahan

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Indonesia

2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s