Analisis Strategi Pernerjemahan Konsep Budaya dan Pergeseran Komponen Makna  Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris dalam Novel Lelaki Harimau 

  1. Pendahuluan

Menerjemahkan, menurut Newmark (1998) adalah menyampaikan makna teks dari suatu bahasa ke bahasa lain sesuai dengan maksud penulis teks tersebut.  Oleh sebab itu, kesepadanan pesan antara bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa) sangat ditekankan. Akan tetapi, faktor budaya yang berbeda antara budaya sumber dan budaya sasaran seringkali menimbulkan masalah penerjemahan, terutama ketersediaan padanan kata yang dapat mewakili konsep BSu.

Dalam makalah ini,  penulis menganalisis strategi penerjemahan serta pergeseran komponen makna hasil terjemahan dalam novel terbitan PT Gramedia Pustaka Utama berjudul Lelaki Harimau (2004) karya Eka Kurniawan dan versi bahasa Inggrisnya Man Tiger (2015) yang diterjemahan oleh Labodalih Sembiring.

Berlatar belakang budaya Indonesia, novel tersebut menceritakan kisah tragis sebuah keluarga yang tidak bahagia yang berujung pada tragedi pembunuhan. Di dalamnya, penulis ini menemukan banyak konsep budaya yang menimbulkan masalah penerjemahan.

2. Pokok Permasalahan

Penulis ini tertarik untuk menengarai strategi yang diterapkan dalam menerjemahkan novel Lelaki Harimau dengan menjadikan teori yang diusulkan Baker (1992) sebagai acuan.

Selanjutnya, pergeseran isi pesan dari BSu ke BSa pun akan diteliti dengan menggunakan analisis komponen makna yang dikemukakan Bell (1993:87-88). Analisis ini biasanya dilakukan oleh penerjemah dan pembelajar bahasa dengan mendeskripsikan komponen sistem semantik dari bahasa tertentu sehingga dapat diketahui persamaan dan perbedaan antar bahasa.  Bell menyatakan (1993) bahwa asumsi yang sangat diperlukan dalam komponen makna adalah arti dari sebuah kata yang merupakan jumlah dari beberapa elemen makna yang dimiliki (ciri khusus semantik) dan elemen-elemen biner (yang berhubungan) tersebut ditandai dengan (+) jika elemen tersebut ada dan (-) jika elemen itu tidak ada.

3. Hasil dan Pembahasan

Terdapat banyak istilah budaya yang menimbulkan masalah penerjemahan dalam novel Lelaki Harimau, misalnya ‘sarung’, ‘batik’, ‘layar tancap’, ‘dangdut’,‘penghulu’, ‘muazin’, ‘adzan’, ‘qomat’, dan ‘tontoan’. Memang, dalam BSa dikenal kata sarong yang berarti ‘kain sarung’ dalam bahasa Indonesia, tetapi kata itu merupakan kata pinjaman dari bahasa Melayu, mengingat Inggris pernah menguasai daerah ini (Nadhar, 2007: 64). ‘Batik’ pun telah menjadi bahasa Inggris karena sering digunakan dalam brosur wisata. Namun, ‘layar tancap’ ‘dangdut’, ‘penghulu’ dan yang lain perlu diberikan keterangan tambahan karena ketiadaan padanan  kata dalam BSa.  

Dalam makalah ini, disebabkan karena keterbatasan tempat, penulis ini hanya mengkaji sebagian data, yaitu ‘bedug’ yang diterjemahkan menjadi drum, ‘cobek’ menjadi griddle, ‘serabi’ menjadi pancake, ‘golok’ menjadi machete, kyai menjadi  kyai, the teacher of Koran, dan ojek menjadi motorcycle taxy. Berikut pengelompokan strategi penerjemahan yang diterapkan serta analisis komponen maknanya:

  1. Penerjemahan menggunakan kata yang lebih umum (superordinat)

Strategi ini biasanya digunakan ketika BSa tidak memiliki kata yang spesifik, misalnya:

  1. ‘Bedug’ menjadi drum

Dalam novel Lelaki Harimau, kata ‘bedug’ diterjemahkan menjadi drum. ‘Bedug’ adalah gendang besar (di surau atau masjid yang dipukul untuk memberitahukan waktu shalat) (KBBI online, 2016), sementara drum adalah merupakan sebuah instrumen perkusi yang mengeluarkan bunyi dengan dipukul menggunakan tangan atau tongkat, biasanya silinder atau berbentuk mangkuk, dengan membran kencang lebih dari satu di kedua ujungnya (Oxford dictionaries Online, 2016). Berikut analisis komponen makna ‘bedug’ dan drum:

Komponen Makna Bedug Drum
1.      Instrumen musik

2.      Dibunyikan dengan cara dipukul

3.      Biasanya ditemukan di masjid

4.      Dibunyikan untuk memberitahukan waktu shalat

5.      Terbuat dari kulit sapi atau kambing yang sudah dikeringkan

+

+

+

+

 

+

+

+

 

Berdasarkan analisis komponen makna, diketahui bahwa penerjemahan kata ‘bedug’ menjadi drum mengalami pergeseran makna sehinga tidak dapat mewakili konsep  ‘bedug’ dengan baik. Penulis ini menyarankan agar kata drum diberikan penjelasan tambahan, misalnya a large drum at mosque to summon to prayer.

  1. ‘Cobek’ menjadi griddle

‘Cobek’ diartikan sebagai piring dari batu atau tanah untuk menggiling cabai atau sebagainya (KBBI online, 2016). Sementara itu, griddle merupakan piring pipih berat dari besi yang digunakan untuk memanaskan atau memasak makanan (Oxford online, 2016).

Medan makna Cobek Griddle
1.      Peralatan dapur

2.      Berbentuk piring

3.      Terbuat dari batu/ tanah liat

4.      Berfungsi untuk menggiling

+

+

+

+

+

+

Berdasarkan analisis medan makna, ada dua komponen yang tidak terpenuhi oleh kata griddle, yakni bahan penyusunnya; cobek terbuat dari batu/ tanah liat, sementara griddle dari besi, dan fungsinya bukan sebagai penggiling. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam kasus ini terjadi pergeseran makna. Menurut penulis ini, kata yang lebih dekat dengan ‘cobek’ adalah mortar, yang merupakan sebuah wadah berbentuk mangkok yang berfungsi sebagai penggiling, biasanya terbuat dari batu.

2. Penerjemahan dengan penggantian budaya

Strategi ini digunakan ketika BSa tidak memiliki padanan kata yang dapat mewakili konsep BSu. Beberapa konsep yang ditemukan adalah:

  1. ‘Serabi’ menjadi pancake

Dalam novel itu, kata ‘serabi’ diterjemahkan menjadi pancake. ‘Serabi’ adalah penganan berbentuk bundar pipih berpori-pori, dibuat dari adonan tepung beras (gandum), air kelapa (santan dan sebagainya), ragi dan sebagainya, sebelum dimasak dibiarkan mengembang, dimakan dengan kuah gula jawa bercampur santan (KBBI online, 2016). Sementara itu, pancacake didefinisikan sebagai kue berbentuk datar dan tipis yang kedua sisinya dipanggang dan biasanya diberi topping (olesan) manis atau gurih (Oxford dictionaries online, 2016).

Serabi Serabi Pancake
1.       Penganan berbentuk bundar pipih

2.       Dibuat dari adonan tepung beras (gandum)

3.       Dimakan dengan topping manis atau gurih

+

+

+

+

+

+

Berdasarkan analisis komponen makna, diketahui bahwa pancake dapat mewakili konsep ‘serabi’ sekalipun keduanya adalah makanan yang berbeda. Penggantian konsep BSu dengan konsep yang lebih lazim bagi penutur BSa dapat diterima selama tidak mengurangi isi pesan dalam teks.

  1. ‘Golok’ dan machete

‘Golok’ didefinisikan sebagai 1) parang; 2) pedang yang pendek (KBBI online, 2016). Senjata khas rumpun melayu ini bentuknya seperti pisau besar dan berat yang digunakan sebagai alat berkebun. Adapun machete merupakan pisau berat dan lebar yang digunakan sebagai peralatan atau senjata, berasal dari Amerika Tengah dan Karibean (Oxford online, 2016). Sepintas, ‘golok’ dan machete memiliki kesamaan fisik, hanya saja, ‘golok’ cenderung lebih pendek dan berat.

Komponen Makna Golok Machete
1.      Senjata tajam

2.      Terbuat dari besi baja

3.      Seperti pedang pendek

4.      Berfungsi sebagai alat pertanian

+

+

+

+

+

+

+

+

Berdasarkan analisis komponen makna, diketahui semua komponen makna yang ada pada ‘golok’ ditemukan pada kata machete. Kata machete dapat dikatan akurat untuk mewakili ‘golok’ karena tidak terjadi pergeseran makna dan kata itu lebih familiar di budaya sasaran.

3. Penerjemahan menggunakan kata pungutan (dan penjelasan)

Startegi ini lazim digunakan untuk mengatasi masalah konsep budaya atau konsep modern. Dalam novel itu, kata ‘kyai’ dipertahankan bentuknya dengan penjelasan tambahan the teacher of Koran (guru yang mengajarkan Al-quran).

Komponen makna Kyai Kyai, the teacher of Koran.
1.      Mengonsentrasikan diri dalam ilmu agama; belajar dan mengajar

2.      Dituakan dan dihormati

3.      Pemimpin masyarakat/ organisasi

4.      Ulama

+

 

+

+

+

+

 

+

Sebenarnya, istilah yang tepat untuk merujuk pada seorang guru ngaji laki-laki adalah ‘ustaz’, bukan ‘kyai’, sebab ‘kyai’ merupakan sebutan untuk yang dituakan ataupun dihormati, baik berupa orang ataupun barang. Selain itu, ‘kyai’ juga digunakan untuk menyebut ulama, tokoh dan pemimpin masyarakat/ organisasi yang didirikannya. Dalam novel Lelaki Harimau pun, tidak ada penjelasan bahwa orang yang dirujuk sebagai ‘kyai’, yakni Kyai Jahro, pernah menjadi guru ngaji. Jadi, keterangan tambahan yang digunakan di sini menyebabkan penyempitan makna ‘kyai’.

4. Penerjemahan dengan melakukan parafrase menggunakan kata terkait.

Startegi ini digunakan ketika sebuah konsep dikenal secara leksikal tetapi berbeda dalam bentuk. Contohnya kata ‘ojek’ diterjemahkan menjadi motorcycle taxy (taksi motor). ‘Ojek’ merupakan sepeda motor yang ditambangkan dengan cara memboncengkan penumpang atau penyewanya (KBBI online, 2016).

Komponen makna Ojek Motorcycle taxy
1.      Transportasi berupa kendaraan roda dua

2.      Ditambangkan dengan cara memboncengkan penumpang

 

+

+

+

+

Berdasarkan analisis komponen makna, diketahui bahwa semua komponen yang dikandungi kata ‘ojek’ terdapat pada motorcycle taxy sehingga tidak menimbulkan pergeseran makna.

4. Simpulan

Untuk dapat menilai kualitas terjemahan konsep budaya pada novel Lelaki Harimau, tentu penulis ini memerlukan pengkajian data yang lebih banyak. Akan tetapi, dari analisis sementara di atas, dapat ditarik simpulan bahwa dalam novel Lelaki Harimau terdapat beberapa strategi penerjemahan yang digunakan untuk menanggulangi masalah penerjemahan konsep budaya, yaitu penerjemahan menggunakan kata yang lebih umum (superordinat) dan penerjemahan menggunakan kata pungutan yang dalam penelitian ini menyebabkan pergeseran makna, serta penerjemahan dengan substitusi budaya dan penerjemahan dengan melakukan parafrase menggunakan kata terkait yang tidak menimbulkan pergeseran makna.

Dalam menerjemahkan konsep budaya, memang masalah pergeseran makna ini hampir tidak mungkin dihindari. Akan tetapi, analisis komponen makna dapat menjadi cara yang sangat membantu penerjemah dalam menentukan padanan kata yang paling dekat dengan konsep budaya sumber.

5. Daftar Pustaka

Baker, M. (2011). In other words: A courseboon on translation (ed. ke-2). London: Routledge.

Bell, R.T (1993). Translation and Translating: Theory and Practice. New York: Longman

Cruse, D.A. (1986). Lexical semantics.Cambridge: Cambridge University Press

Kridalaksana, H.  (2008). Kamus Linguistik (ed. ke-4). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kurniawan, E.( 2004). Lelaki Harimau (ed. Ke-5).Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Kurniawan, E. (2015). Man Tiger (Labodalih Sembiring, Pentj). London: Verso

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. (2016). Diambil dari http://kbbi.web.id/

Nadar, F.X.(2007). Paham dan Terampil Menerjemahkan. Yogyakarta: Unit Penerbitan dan

Perpustakaan Universitas Gadjah Mada

Newmark, P.P.(1998) A Textbook of Translation. Hemel Hempstead: Prentice-Hall

International

Oxford dictionaries Online. (2016). Diambil dari https://en.oxforddictionaries.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ujian Akhir Semester

Semamtik

(Dr.Phil. Setiawati Darmojuwono)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Sri Rahmawati

1606849253

 

 

 

 

 

Jurusan Linguistik Penerjemahan

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Indonesia

2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s