Kebudayaan sebagai teks mengandaikan kebudayaan sebagai jaringan makna yang harus dibaca dan ditafsirkan.

Kebudayaan menurut Geertz (dalam Kuper, 2000: 98) adalah pola-pola makna yang diwariskan secara historis dan terwujud sebagai simbol-simbol yang digunakan untuk berkomunikasi.

Kebudayaan tidak ada di dalam batin, tetapi ada dalam masyarakat sebagai sesuatu yang harus dibaca dan ditafsirkan. Di sinilah kebudayaan berperan sebagai teks. Teks itu sendiri adalah wacana, tetapi wacana belum tentu teks.  Dalam ranah yang berbeda, teks dapat merujuk pada hal yang berbeda. Misalnya dalam Ilmu Arkeologi, teks merujuk pada candi dan artefak sedangkan dalam Ilmu Sejarah, teks merujuk pada arsip, baik verbal maupun non-verbal.

Dalam pengkajian teks sebagai kebudayaan, terdapat empat pendekatan yang saling berkaitan, yaitu hubungan teks dengan pengirim, penerima, konteks, dan teks lain. Dalam makalah ini, penulis tertarik membahas novel yang merupakan salah satu hasil budaya.

Tak hanya menjadi bacaan untuk mengisi waktu senggang, novel memiliki fungsi yang jauh lebih luas, yakni sebagai wadah penyampaian gagasan pengarang kepada pembaca, atau lebih spesifik untuk pengungkapan kearifan lokal sebuah budaya. Itulah mengapa, Riffaterre (1978) megatakan bahwa karya sastra mengacu pada sesuatu yang di luar dirinya.

Pendekatan tekstual dan intertektual yang banyak digunakan dalam mengupas sebuah karya sastra adalah semiotik atau ilmu tanda. Sesuai dengan konvensi sastra, menurut Pradopo (2004: 8), gaya bahasa merupakan tanda yang menandai sesuatu. Lebih lanjut, Junus (1989: 187-188) mengatakan bahawa gaya bahasa mempunyai makna dan gaya bahasa itu menandai ideologi pengarang. Jadi, ketika penulis menggunakan gaya tertentu, ada ideologi yang ingin disampaikan dengan cara itu.

Salah satu karya sastra yang menarik untuk dikaji adalah novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel ini merupakan trilogi yang ditulis pada tahun 1981. Berlatar sebuah pedukuhan bernama Dukuh Paruk di Banyumas, Tohari mencoba mengangkat satu kearifan lokal yang sudah dianggap menjadi denyut nadi dukuh tersebut, yaitu ronggeng. Tanpa ronggeng, Dukuh Paruk bukanlah apa-apa. Latar waktu yang diambil adalah tahun 1946 sampai 1960. Saat itu, ekonomi Indonesia mengalami kekacauan hingga beras harus diimpor dari luar. Dalam novel itu Tohari menggambarkannya dengan menarasikan para warga saat itu makan nasi gaplek dan tempe bongkrek. Sementara itu, dari segi politik, terdapat gerakan-gerakan anti pemerintah seperti pemberontakan DI/ TII.

Meskipun novel ini tidak dapat dikatakan baru, nilai-nilai yang dikandungi masih sangat relevan dengan masa sekarang. Terutama karena kearifan lokal di dalamnya memiliki hubungan intertektualitas dengan ajaran agama Islam. Makruf (2011) mengatakan, berbeda dengan para kyai atau pendeta yang berdakwah dengan cara berkhutbah yang sifatnya kadang-kadang doktrinal dan menggurui, melalui novel Ronggeng Dukuh Paruk, Tohari menyampaikan dakwah kulturalnya dengan menyentuh hati nurani, mengelus lembut perasaan, dan menggelitik pemikiran pembaca. Tentunya ini dilakukan melalui dialog para tokohnya.

Akan tetapi, ketika novel ini keluar ke ranah publik, makna sepenuhnya menjadi milik pembaca dan pengarang tidak dapat mengontrol bagaimana pembaca melakukan pemaknaan itu. Penulis sendiri, ketika membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk berpendapat bahwa novel itu merupakan novel yang vulgar karena banyak mengekspos gerakan-gerakan ronggeng yang erotis dan prilaku mesum lainnya.

Tapi begitulah Tohari, yang berlatar belakang sebagai santri, ingin menyampaikan bahwa seorang manusia, bahkan yang dianggap paling hina sekalipun, dalam kasus ini Srintil, perempuan sundal yang menjadi ronggeng, berpeluang untuk bertobat dan memperbaiki diri. Jadi adegan-adegan yang erotis dalam novel itu bukanlah inti dari apa yang ingin disampaikan Tohari.

Novel ini seringkali disandingkan dengan novel sejenis yang ditulis oleh NH. Dini  pada tahun 1977, Namaku Hiroko. Melalui novel itu, Dini mengeksplor berbagai aspek sosial budaya Jepang mulai dari aspek agama Sinto, adat sopan santun, pakaian adat Jepang (Kimono dan Yukata) hingga aspek-aspek erotis yang ditunjukan melalui Hiroko, karakter utama yang berprofesi sebagai geisha atau wanita penghibur.

Referensi:

Aminuddin. 1990. Pengantar Apresiasi Karya sastra. Bandung: Sinar Baru dan YA3

Malang.

http://id.wikipedia.org/wiki/AhmadTohari (Diakses tanggal 21 Desember 2016)

Junus, Umar. 1984. Resepsi Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Kuper, A(2000). Culture: The Antropologits’ Account. Cambridge: Harvard University

Press

Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. “Stilistika” dalam Jurnal Humaniora Nomor 1, Tahun

1994.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s