Sejarah sebagai Kajian Budaya

Kita telah menyaksikan di televisi beberapa kali terjadi demo besar di Jakarta. Bagaimana Anda dapat menjelaskan fenomena ini dengan Teori Pierre Bourdieu?

Demo besar yang terjadi di Jakarta merupakan bentuk protes sebagian  muslim di Indonesia terhadap gubernur aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) karena dianggap melanggar Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang pencegahan, penyalahgunaan dan/atau penodaan agama.

Sejauh ini, telah dilakukan tiga kali aksi terkait kasus tersebut. Aksi pertama dilakukan pada  bulan September dan berujung pada penetapan sang gubernur sebagai tersangka. Akan tetapi, meskipun resmi berstatus tersangka, tak ada tindak lanjut dari pihak yang berwenang sehingga masyarakat yang bersangkutan geram dan kembali menuntut keadilan. Tak dapat dicegah, aksi kedua dan ketiga pun bergulir sehingga membuat  Indonesia  sempat menjadi perhatian dunia.

Jika dikaitkan dengan teori Piere Bourdieu, jelas fenomena ini merupakan upaya untuk membongkar struktur dominasi simbolik yang dianggap sebagai ketidakadilan di dalam masyarakat. Kita sering mendengar bahwa hukum di Indonesia selalu tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Dengan kata lain, orang yang memiliki kekuasaan seringkali kebal terhadap hukum.

Padahal, kasus semacam ini pernah beberapa kali terjadi di Indonesia dan pelakunya diadili sesuai undang-undang. Misalnya pada awal tahun 2006, Lia Eden diganjal dengan hukuman 2,5 tahun penjara karena terbukti melakukan penodaan agama. Kemudian menyusul nama-nama seperti Tajul Muluk, Antonius Bawengan dan Arswendo Atmowiloto dengan tuduhan yang sama. Ketidakadilan inilah yang ingin dibongkar oleh masyarakat yang berkepentingan.

Berikut penjelasan dilihat dari sudut pandang key concepts yang dipaparkan Bourdeu:

Habitus seperti yang dirumuskan oleh Bourdeu merupakan nilai-nilai sosial yang dihayati oleh manusia dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku manusia. Dalam kasus ini, yang menjadi habitus adalah nilai-nilai dan doktrin-doktrin yang ditanamkan dalam diri setiap muslim bahwa Al-Qur’an merupakan sebuahpedoman hidup yang sakral, sehingga ketika terdapat sesuatu yang dirasakan menyinggung nilai-nilai tersebut, timbul gejolak yang tidak bisa dihindari.

Kapital adalah modal yang memungkinkan manusia untuk memperoleh kesempatan/ kekuasaan dalam berbagai bidang. Modal ini bisa berupa modal intelektual (pendidikan), ekonomi (uang), serta budaya (latar belakang dan jaringan).  Modal intelektual bisa dilihat dari para ulama, kyai, ustaz dan habib yang memiliki pengetahuan lebih atas perkara ini. Dengan modal itu, mereka mampu menggerakan umat untuk turun ke jalan. Selain itu, para peserta yang berasal dari berbagai penjuru tanah air memiliki modal ekonomi untuk sampai di Jakarta. Berbagai pihak juga mendukung terlaksananya aksi tersebut dengan mensuplai kebutuhan logistik dan akomodasi.

Arena merupakan ruang khusus yang ada di dalam masyarakat dan merupakan tempat penentuan posisi. Kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dimanfaatkan masyarakat untuk turun ke jalan. Hal ini tentu mustahil dilakukan jika pemerintahan bersifat diktator seperti berpuluh tahun yang lalu.

Kelas sosial yang dikemukakan oleh Bourdieu memiliki lingkup yang lebih luas. Jika Marx hanya membedakan kelas sosial menjadi kelas bourjois dan proletariat (masalah ekonomi dan produksi), Bourdeu mengelompkkannya berdasarkan kekayaan, kelas sosial, pendidikan, habitus, dll.  Dalam hal ini, umat muslim yang turut melakukan aksi dapat dikatakan memiliki kelas sosial yang lebih tinggi dibanding mereka yang justru hanya mengkritik aksi tersebut, sebab aksi ini dianggap sebagai upaya menjunjung kehormatan agama Islam. Sebaliknya, ada pula yang berpendapat bahwa aksi tersebut terlalu berlebihan dan tidak mencerminkan umat Islam yang penyabar dan pemaaf.

Dominasi simbolik adalah penindasan dengan menggunakan simbol-simbol sehingga tidak dirasakan sebagai penindasan, melainkan sebagai sesuatu yang secara formal perlu dilakukan. misalnya untuk menegakkan aturan. Dalam aksi tersebut, para penegak hukum yang melakukan pengamananlah yang memiliki dominasi simbolik. Mau tak mau, para aksi harus tunduk dengan segala aturan yang mengatur tata cara melakukan aksi. Ketika terjadi kericuhan pun, aparat tetap memiliki wewenang untuk melakukan upaya apapun, termasuk kekerasan, demi penertiban.

Doxa merupakan pandangan penguasa/ aktor sosial dominan yang dianggap sebagai pandangan hidup masyarakat. Ini bersifat fundamental dan tanpa melalui proses pemikiran. Doxa adalah wujud pemikiran dari mekanisme dominasi simbolik, dalam  hal ini adalah agama. Agama  merupkan sesuatu yang sejak dahulu diajarkan para tokoh/ aktor dominan, yaitu para nabi, ulama, dll.

Hysteresis merupakan efek dari perubahan struktur arena karena tidak sesuai dengan habitus. Perubahan ini terjadi karena ada kebingungan dari agen. Jika proses penerimaan dalam doxa bersifat beku atau sudah diteima masyarakat, dalam hysteris terdapat semacam cultural shock atau kebingungan. Proses ini belum sampai ke tahap doxa sehingga terjadi perubahan-perubahan dalam arena atau habitus.

Konantus merupakan usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kelas atau posisi sosial dalam arena. Jelas dalam kasus ini yang menjadi konatus adalah aksi itu sendiri. Umat muslim melakukan aksi sebagai peringatan agar dikemudian hari tak ada lagi kasus yang mengusik harga diri mereka.

Referensi:

Grenfell, Michael (2008). Pierre Boudieu, Key Concepts. Birmingham, Acumen.

Mutahir, Arizal (2010). Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu, Sebuah Gerakan Melawan Dominasi. Bantul, Kreasi Wacana.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s